Selasa, 29 Desember 2015

Kisah Nyata Pembawa Pesan



Pengalaman menarik,
Baut Ban Mobil Pembawa Pesan

Seorang mahasiswa bermobil berniat akan sembahyang Jum'at di dekat rumahnya.
Karena jarak yang cukup dekat, maka dari rumah ke masjid cukup hanya
berjalan kaki saja. Pakaianpun seadanya yang memenuhi syarat untuk
bersembahyang. Bahkan dompetpun ditinggal di rumah.Tak lupa sebelum
berangkat, terselip di kantongnya uang sejumlah seribu rupiah diniatkan
untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan masjid.

Saat sampai di masjid, ternyata jamaah sudah penuh sampai luber keluar,
sehingga si mahasiswa tadi tidak dapat tempat. Maka diapun mendengarkan
khotbah sambil berdiri di halaman, dan tentunya kotak sumbangan tidak lewat
didepannya. Akibatnya uang seribu dikantong tetap utuh sampai sholat Jum'at
selesai.

Kalau memang sudah niat, seharusnya bisa saja kotak sumbangan itu dicari dan
uang dimasukkan. Tapi kenyataannya, rasa sayang terhadap uang sejumlah itu
masih mengganggu. Lumayan untuk sepiring nasi padang dengan lauk ayam goreng
untuk makan siang untuk ukuran pada masa itu. Sehingga uang seribu rupiah
tersebut tidak jadi masuk kotak sumbangan, tapi dibawa pulang kembali.

Jam sudah menunjukan saat makan siang setelah selesai sholat Jum'at. Maka
setelah itu, ia bersama pembantunya pergi keluar mancari makan siang dengan
mobilnya. Belum sampai tempat tujuan, terdengar suara dentuman keras di roda
sebelah kiri depan. Mobilpun ditepikan dan kebetulan berhenti di antara
andong-andong yang sedang parkir mencari muatan. Setelah di cek, ternyata
baut roda yang berjumlah empat buah hanya tinggal tersisa dua buah, dan
itupun sudah mau lepas. Pantas saja roda jadi oleng dan menimbulkan bunyi
keras. Segudang "untung"pun keluar dari mulut orang-orang yang menonton.
Untung tidak lepas, untung sedang jalan lambat, untung di dalam kota dll.
Setelah tahu penyebabnya, gampang! Kencangkan lagi baut dan nanti setelah
makan, pergi ke toko spare part mobil dan beli baut baru. Tidak masalah.

Tapi saat mengencangkan kedua baut tersebut, salah seorang kusir andong yang
sudah tua, ikut menonton dan dengan bahasa Jawanya yang halus dia menawarkan
satu buah baut yang katanya milik dia dan dia meminta uang seribu rupiah
untuk menebusnya. Seribu rupiah??? Pikiranpun teringat seribu rupiah yang
tidak jadi masuk kotak sumbangan masjid. Kok pak kusir tua menawarkan seribu
rupiah? Kenapa tidak seribu lima ratus atau dua ribu sekalian? "Ah, itu
hanya 'kebetulan' saja" pikir mahasiswa itu.  "Baiklah, coba lihat baut yang
bapak punya" kata si mahasiswa (Dalam bahasa Jawa halus juga). Setelah pak
kusir memperlihatkan bautnya, ternyata itu adalah baut mobil mahasiswa itu
yang rupanya lepas dan menggelinding ke kolong andong pak kusir tua itu,
lalu dia ambil dan mengaku sebagai pemiliknya. "Bisa saja pak tua ini" pikir
si mahasiswa dalam hatinya. Karena merasa iba, maka tanpa banyak bicara atau
menawar, bautpun dibayar. Senang sekali pak tua kusir andong menerima seribu
rupiah.

Baru tiga baut yang terpasang dari empat baut yang seharusnya. "Tak apalah,
nanti baut yang keempat beli di toko" pikir si mahasiswa. Maka, pergilah
mereka makan siang sambil si mahasiswa pemilik mobil tetap bertanya di dalam
hati. "Kenapa seribu rupiah???"

Terpikir oleh si mahasiswa pada saat itu; "Apakah ini sebuah pesan atau
peringatan dari Allah SWT bahwa sesuatu yang sudah niat untuk diikhlaskan,
dalam hal ini uang seribu rupiah untuk sumbangan ke masjid, tidak
sepantasnyalah untuk ditahan-tahan dengan alasan sayang uang/benda, atau
takut rugi atau untuk keperluan yang lain". Jadi maksudnya peringatan dan
menguji keikhlasan. Bila masih ditahan, itu artinya masih belum ikhlas
sepenuhnya.

Apakah yang dipikirkan itu benar? Atau hanya dia saja yang terlalu
berperasaan? Sengaja mobilpun dilewatkan kembali di jalan yang sama setelah
kembali dari makan siang dan diapun berdoa memohon kepada Tuhan. Dalam
permohonannya; "Ya Allah, bila memang kejadian itu adalah sebuah pesan dan
memang ditujukan untuknya dan apabila yang terpikir itu benar adanya, maka
tunjukanlah kebenaran itu" Tahukah anda apa yang terjadi sesaat setelah doa
itu selesai terucap??? Baut yang satunya langsung terlihat tergeletak
ditengah jalan aspal, tak jauh dari andongnya pak tua yang tadi, dan tak ada
seorangpun yang menggubris, walaupun orang ramai lalu lalang dan sudah
ditinggal beberapa jam selama makan siang. Bisa dibayangkan sebuah baut roda
kecil, terlihat dengan jelas dari dalam mobil tergeletak di tengah jalan
utama dalam keadaan mobil berjalan pula!! Hatipun terasa bergetar, keringat
mengucur keluar, air mata serasa ingin keluar, merinding, tak tahu harus
bilang bagaimana.

Lengkaplah sudah baut ban mobil mahasiswa itu seperti sedia kala. Tanpa
harus membeli di toko, tapi harus "membeli" seribu rupiah dari pak tua kusir
andong. Dimana seribu rupiah itu memang sudah diniatkan dari awal akan
dikeluarkan untuk sumbangan, tapi tidak jadi, tapi Allah Maha Tahu, dan
memberi peringatan pada hambanya, seolah-olah berkata; "Keluarkan seribu
rupiah itu, karena itu sudah bukan menjadi hakmu lagi!" Maka jadilah seribu
rupiah di"tarik" dengan "paksa" melalui kejadian ban yang hampir lepas.
Ditambah dengan "pesan" yang diterima bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha
Mendengar dan Allah berada dekat, dekat, bahkan sangat dekat dengan
mahluknya. Perbuatan, atau bahkan niat sekecil apapun akan diketahui
olehNYA.

Maka, berhati-hatilah bila punya niat dalam hati, berhati-hatilah bila
berucap dan berhati-hatilah bila bertindak. Semuanya itu tidak lepas dari
pengawasan Allah SWT Pencipta Langit dan Bumi.

Maha Suci Engkau ya Allah, dan tidak ada satupun yang menyerupainya......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MTs Sabilurrosyad

MTs Sabilurrosyad
Profil MTs Sabilurrosyad

Edukasi Tata Surya part 1