Sabtu, 09 Januari 2016

Bersyukur

Hari-hari  terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu
untuk 'memanjakan' diri sendiri.
Bahkan saat akan  beristirahat pun, segala masalah dan tugas dalam
Pekerjaan  selalu menghantui pikiran.
Pagi ini, hari Senin, aku datang ke  kantor dengan semangat yang sedikit
lebih baik, setelah pada akhir  pekan aku sempat untuk beristirahat. Saat
kumasuki ruangan kerjaku,  telpon berdering. Aku angkat dan terdengar
teriak  dari  ujung telpon. "Keruangan saya sekarang".
Wah ada apa ini ?  Pagi-pagi boss sudah marah-marah.
"Bagaimana ini? Kerja ngak pernah  beres. Saya harus presentasi hari ini,
bahan yang kamu sediakan  sama sekali tidak berguna. Buang-buang waktu
saya saja."
Aku hanya terdiam, dalam hati aku sangat muak dan sebal  mendengarnya.
Minggu yang lalu, aku sudah ingatkan. Bahwa  bahan presentasi yang beliau
minta
tidak akan mungkin dapat di selesaikan. Waktunya terlalu singkat.
Sedangkan materinya sangat banyak. Saya usulkan untuk menggunakan
presentasi
yang  sudah ada, dengan pembaharuan sedikit." Tapi bossku tetap memaksa
  untuk membuat bahan presentasi yang baru. Dengan bijaksana dia
berargumen.
"Ya sudah kamu persiapkan semampu kamu. Nanti saya akan  bantu".
Sebenarnya saya sudah tahu, ini lagu lama, nanti pada  akhirnya dia tidak
akan membantu sama sekali dan ujung-ujung dia  akan marah-marah, seperti
saat ini. Sebenarnya kalau mau  jujur. Saya bisa saja menyelesaikan
presentasi
tersebut kalau mau  mencurahkan lebih banyak waktu untuk mengerjakannya.
Tapi, terus  terang saya sudah malas dengan segala keinginan boss-ku.
Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang malam. Dari
Senin
sampai Sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah di hargai  leh nya.
Jadi aku pikir "masa bodoh dengan segala pekerjaan  kantor. Aku sudah cape.
Terserah deh, nanti jadinya apa. Gua kaga  peduli". Jadi Sabtu kemarin
aku habis kan waktu dengan tidur  seharian. Membaca buku, menonton
televise,
dengar kaset. Laptop  yang tegeletak di atas meja tidak aku sentuh
sedikit pun. "Masa  bodoh" pikirku.
Boss ku masih saja mengoceh di  depanku. Aku berpura-pura tertunduk dan
menyesali segala  kesalahanku. Padahal dalam hati, aku masa bodoh, setiap
perkataannya tidak ada satu pun yang hinggap di dalam pikiran. Masuk
kiri keluar kanan. Setelah 15 menit akhirnya keluar juga perkataan  yang
aku tunggu-tunggu.
"Ya sudah. Keluar  kamu."
Aku kembali keruangan. Duduk. Kunyalakan computer,  seolah-olah hari ini
tidak ada apa-apa. Waktu berlalu dengan cepat.  Tak terasa sudah jam 12.
Saatnya makan siang. Langsung saja ku buka  bekal yang aku bawa dari
rumah. Dengan tergesa-gesa kusantap  setiap sandok makan siangku. Hari ini
aku
harus jalan lagi  keluar kantor. Menemui kantor yang mengeluh atas jasa
layanan
yang  perusahaan kami berikan. Sambil makan aku mulai berpikir "Wah
cape  kerja di sini mah. Bossnya ngak punya otak. Emang gua apaan, robot?
superman ? Masa bodo ah, sekarang sih gua kerjain yang gua mau aja.  Masa
bodo dengan boss. Mau ini kek mau itu kek, itu sih urusan dia  sendiri.
Gua kagak mau peduli."
Sendok  terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga. Kubenahi
segala dokumen yang di butuhkan dan segera kelaur kantor mencari taxi.
Sudah 5 menit aku menunggu, akhirnya taxi yang kutunggu datang  juga.
"Daerah kota pak" Seruku pada supir taxi.
  "Kotanya di mana pak?", Dia menimpali.
"Wah, namanya apa yah ?" aku  sendiri tidak begitu ingat. "Nanti saya
tunjukkan jalannya kalau  sudah sampai di sana"
"Baik Pak".
Suasana hening.  Tidak beberapa lama pak supir berkata, "Tadi orang yang
pakai taxi  ini sebelum Bapak, naik dari Taman Anggrek". Dekat amat
pikirku. Kantor ku ada di daerah Citraland. "Kok mau sih pak?" ucapku.
  "Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat,  masa
kita tolak", ujarnya dengan logat batak yang masih  terasa.
"Kalo supir lain sih pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah,  dekat atau
jauh toh berkat dari Tuhan.",
"Wah, berfilsafat dia.", pikirku.
"Tapi sebenarnya untung juga sih kalau  nariknya deket. Tadi saja saya di
kasih uang 10.000. padahal  argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga.
Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau
  buru-buru. Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit
  hati kan".
"Iya juga yah", pikirku. Suasana hening  kembali. Kuperhatikan wajahnya
dari kaca mobil.  Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir taxi yang
lain. Yang rata-rata wajahnya cemberut.
"Bapak sudah lama jadi sopir  taxi", Tanyaku memecah keheningan.
"Baru empat tahun Pak."
"Sebelumnya kerja di mana ?"
"Dulu saya kerja di  perhotelan."
"Kerja di bagian apa Pak ?"
"Manager  operasioanl".
Hah ? Tidak salah dengar ? Manager ? ngak mungkin  ah..
"Anak buahnya banyak pak ?", tanyaku sedikit  menyelidik.
"Ada sekitar 100 orang".
"Terus, koq  sekarang malah jadi sopir taxi"
"Wah, panjang ceritanya  Pak."
"Oh.", gumanku dan tidak bertanya lebih lanjut, kelihatannya  ada
kenangan pahit yang dia alami.
"Biasalah pak  korban kena sikut", ujarnya meneruskan, "Padahal dia teman
baik  saya. Tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu.
"Tapi buat saya  itu ngak masalah. Saya percaya Tuhan pasti akan tetap
pelihara  saya. Buktinya saya langsung bisa dapat pekerjaan lagi.
Walaupun tidak sehebat seperti dahulu. Yah, sudah cukup lah, untuk
kebutuhan
  sehari-hari".
"Kenapa Bapak tidak mencoba melamar di hotel lain  ?"
"Nama saya sudah rusak Pak."
"Pasti karena di  fitnah oleh teman baiknya itu", pikir ku. Kuperhatikan
lagi wajahnya. Tetap ceria seperti tadi. Tidak nampak terbeban.
"Lebih  enak jadi sopir atau kerja seperti dulu Pak ?", tanyaku.
"Wah, enak  atau enggak tergantung hati kita Pak. Pokoknya kita mesti
sadar, bahwa apa yang kita punya saat ini, Tuhan yang memberi. Mengucap
syukur
senantiasa. Sukacita bukan datang dari luar, tapi dari dalam  diri
kita. Jadi kalau di tanya lebih enak mana, dulu atau  sekarang.
Jawabannya yah: dua-duanya. Mau jadi apa aja ngak  masalah, yang penting
ada rasa
syukur, pasti sukacita itu datang  dengan sendirinya."
Wah, jadi malu aku. Aku yang sejak kecil di  didik dalam keluarga
percaya, masih mengeluh kan pekerjaan yang  saya terima. Padalah kalau di
bandingkan dengan sopir taxi,  pekerjaan saya jauh lebih enak. Dengan
penghasilan
yang lebih  tinggi tentunya. Tapi, dasar ! Ngak ada ucapan syukurnya.
Teringat
kembali ayat yang berkata "Lakukanlah segala sesuatu seperti  kita
melakukan
untuk Tuhan".

Hmmm,  hari ini aku di sadarkan kan oleh seorang supir taxi. Hari ini aku
di kuatkan kembali untuk selalu bersyukur dalam segala hal dan  melakukan
semua selayaknya kita bekerja bagi Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MTs Sabilurrosyad

MTs Sabilurrosyad
Profil MTs Sabilurrosyad

Edukasi Tata Surya part 1